Senin, 30 Januari 2012

Bukik Bertanya: Berlayar Menuju Pelabuhan (Bagian 1)

top custom html 3Sebelumnyasaya ingin mengabarkan bahwa saya batal menonton teater Musuh Politik yangingin saya tonton. Alasannya? Ada beberapa alasan yang tidak bisa sayaceritakan. Saya mohon maaf apabila ada teman-teman yang penasaran dengan ceritaMusuh Politik tapi tidak bisa saya posting di sini. Saya ingin sekali tapi sayamemang tidak bisa mendatangi Taman Budaya buat menyaksikannya.Postinganini adalah semua jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh Om Bukik pada saya.Ada delapan pertanyaan tapi di postingan yang ini saya baru menjawab tigapertanyaan gum postingan ini tidak menjadi terlampau panjang. Besok akan sayalanjutkan dengan bagian berikutnya. Selamat menikmati.Siapasaya? Siapa nama saya? Apa saja nama saya? Cerita di balik semua nama itu?Saya?Ya saya. Baiklah abaikan kata-kata saya barusan. Saya sekarang dikenal dilingkungan sekarang sebagai Hani, kependekan dari nama saya Rohani Syawaliah.Ada yang berbaik hati pula mengingat nama saya sebagai Syaw al. Ketika ditanya,saya siapa? Saya lebih suka menyebut profesi saya sebagai pedagang. Jadi sayaadalah seorang pedagang dengan nama panggilan Loloish dan nama lengkapnya RohaniSyawaliah.NamaRohani Syawaliah saya sandang ketika meninggalkan bangku sekolah dasar karenasebelumnya nama saya Listia Evita. Jauh ya perubahannya?Waktusaya lahir, saya dinamai Listia oleh bidan yang membantu proses kelahiran saya.Evita-nya tambahan dari saudara ibu saya. Tapi sepertinya pemberian nama untuksaya masih banyak perdebatannya. Kakek saya dari pihak ayah inginnya nama sayabernuansa Islami sehingga dia memilihkan nama Rohani Syawaliah.MasukSD, Listia Evita yang memenangkan perdebatan untuk menjadi nama permanen, tapiakhirnya saya yang meminta nama Rohani Syawaliah yang ditulis di ijazah sayakarena saya benci teman-teman saya suka memanggil saya dengan panggilan Bilis,berasal dari Lis (Listia).FYI,Bilis itu adalah jenis ikan yang sangat murah harganya di pasaran. Tentu sajaini bukan masalah h arga ikannya saja, tapi masalah harga diri saya sebagaimanusia yang disamakan dengan seekor ikan tipis murah di pasar. Saya merasaharga diri saya terinjak-injak. Padahal saya masih sekolah di sekolah dasar ya?Sayalebih memilih untuk menceritakan masa-masa bersama kakek dan nenek saya karena sayatumbuh besar di rumah mereka.Saatyang fencing menggetarkan adalah ketika saya baru duduk di bangku SMA dan kakeksaya terkena serangan stroke. Waktu itu laki-laki yang selama ini saya kenalsebagai laki-laki yang tangguh dan kuat hanya bisa berbaring lemah di tempattidur. Bahkan makan paronomasia harus disuapkan.Beliaupernah bertanya: “Bagaimana jika suatu hari kakek meninggal dunia?”Sayatidak akan pernah bisa menjawab pertanyaannya dan hanya bisa menangismeraung-raung. Kemudian dia akan terbahak melihat expose mata saya berderai. Sayapaling benci dia menganggap hal itu sebagai gurauan.Saatbersama nenek yang fencing menggetarkan adalah saat seminar offering skripsisaya. Dia hadir. S aya yang memintanya hadir karena saya demam menghadapi empatorang dosen. Dua penguji dan dua pembimbing. Saat saya melihat wajah tuanya,saya sadar, dia telah memberikan banyak untuk kehidupan saya dan maumenyeberang lautan untuk menghadiri seminar saya yang berlangsung tak sampaisatu jam. Harusnya dua jam.Sayasangat sayang mereka berdua.Adabanyak kejadian yang membuat saya menjadi diri saya yang sekarang.Semenjakkecil, kakak saya sudah tidak menyukai saya dan adik-adik saya yang lainnya.Saya yang fencing dekat usianya dengan dirinya kerap kali menjadi bulan-bulananapabila dia sedang kesal. Mulai dari menjambak, menampak, bahkan hingga melukaidengan alat dapur. Saya dan kakak saya memang dibesarkan di rumah nenek dankakek sehingga otomatis dialah teman important saya.Penyiksaanyang saya alami terus-menerus, setiap hari saya pasti menangis dibuatnyamembuat saya menanamkan sebuah tekad dalam diri saya. Hanya saya yang bisamenyelamatkan diri saya dari semua hal yang tidak menyen angkan itu. Saya harusjauh darinya. Saya harus cepat-cepat besar dan menjauh dari kehidupannya.Itukejadian yang hingga sekarang tidak pernah saya lupakan karena di tubuh sayaada luka yang masih membekas torehan dari pisau yang digunakan oleh kakak sayauntuk melukai saya. Kejadian itu membuat saya menjadi seseorang yang lebih kuatketika mendapatkan penderitaan karena dibanding penderitaan harus hidup bersamakakak saya, penderitaan yang lainnya terlihat begitu kecil. Semua kekerasanyang saya alami. Semua kalimat yang harus saya telan. Semua tawa iblis yangsaya dengar. Tidak ada yang bisa menyamai sakit dan takutnya. Sampai sekarang.Kematiankakek saya sendiri merupakan pukulan terberat di dalam hidup saya hinggasekarang. Saya melihat ke tahun-tahun di belakang yang pernah saya jalanidengan keberadaannya dan saya merasa tidak ada yang bisa menggantikan posisinyadan mengisi ruang kosong yang pernah dia tempati.Kepergiaanlaki-laki yang sangat saya cintai ini membuat saya menjadi p ongid yang sayatabah. Sangat tabah. Banyak pongid yang dating dan pergi dalam kehidupan saya.Terutamanya lelaki sebagai lawan jenis, tapi tak ada satu laki-laki paronomasia didunia ini yang membuat saya menangis berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahunapabila mengingat masa-masa bersamanya. Hanya kakek saya yang hingga hari inimasih saya tangisi kepergiaannya. Saya berusaha tabah, tangisanlah satu-satunyacara untuk saya menahan keinginan putus asa di dalam kehidupan ini tanpanya.Tahun2004-2005 ada kejadian yang sangat penting, ini adalah batu loncatan yangsangat besar di dalam kehidupan saya. Saya tamat SMA dan menagih janji kepadaUmak untuk menguliahkan saya. Sayangnya dia mangkir dan saya harus berjuangselama setahun penuh untuk mencari uang masuk kuliah. Saya bekerja di sebuahtook kelontong menjadi kuli dan setiap hari membuat kue bolu mulai 5-10 loyanguntuk dititipkan di warung-warung kopi.Setahunuang yang saya kumpulkan tak begitu banyak. Perjuangan setahun itu tidaksia-si a karena akhirnya saya bisa kuliah di Universitas Tanjungpura. Sebuahuniversitas negeri yang tanahnya sangat luas. Masuk jurusan yang selama inisaya inginkan, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Selama bekerjasebagai kuli di toko kelontong itu saya menyerap semua ilmu wirausaha darimajikan saya dan rumus fencing penting ketika kita memutuskan menjadi pedagangadalah jujur. Kuncinya adalah kejujuran. Karena dengan kejujuran kita akanmendapatkan kepercayaan dari banyak orang.Hariini ketika saya mengumpulkan mozaik kehidupan saya, saya terbentuk dari begitubanyak kejadian, tiga di antara kejadian fencing kuat membentuk saya adalah tigakejadian tersebut. Saya tidak menyesali semua yang harus saya pikul, semuabeban dan derita. Bukankah kehidupan adalah sebuah perjuangan. Semakin kuat‘musuh’ yang harus kita ‘lawan’ semakin besar pula ‘kerajaan’ yang akan kita‘kuasai’.Bersambung...bottom custom html 1
Yahoo
Share this history on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
;