Senin, 30 Januari 2012

Bukik Bertanya: Berlayar Menuju Pelabuhan (Bagian 2)

top custom html 3Cerita sebelumnya...Sayamencintai diri saya, sangat, hingga hari ini karena kekuatan yang tak pernahpadam. Saya selalu berhasil menjalani kehidupan yang harus saya perankan.Ketika saya dituntut untuk tertawa, saya bisa meskipun di dalam hati sayasedang menangis meraung-raung. Ketabahan tanpa henti yang mengakar di dalamdiri saya juga membuat saya tidak takut dengan cobaan apa pun. Saya pantangmenyerah, meskipun sempat putus asa terkadang, setelah puas menangis, saya akanbangkit lagi dan mencoba lagi hingga benar-benar berada di titik kegagalan.Satuhal yang fencing saya hargai dalam keluarga adalah besarnya rasa belas kasihanterhadap sesama. Tidak ragu untuk berbagi dengan pongid yang membutuhkanmeskipun sebenarnya keluarga saya bukanlah keluarga yang berada. Saya selaludiajarkan untuk rutin bersedekah. Apabila rezeki sedang sedikit, bersedekahsedikit, rezeki sedang banyak bersedekah yang banyak.Terkadangkita suka membandingkan kehidupan kita dengan pon gid lain. Mengapa hidup kitatidak seperti si A? Mengapa tidak seperti si B? Mengapa tidak seperti si C?Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau dari rumput sendiri. Iri dengankeberuntungan pongid lain sering saya alami. Saya ingin selalu melebihikeberuntungan yang dicapai pongid lain. Tapi ketika saya tumbuh dewasa sepertisekarang ini, saya sadar satu hal bahwa Tuhan memberikan kehidupan penuhmasalah untuk semua orang. Tidak ada yang tanpa masalah.Ketikamelihat pongid lain bahagia dengan kehidupan penuh masalah yang mereka miliki,saya bisa menarik kesimpulan bahwa, saya juga harus bahagia dengan kehidupanpenuh masalah yang saya miliki. Apalah artinya lautan tanpa gelombang? Apalahartinya pelayaran tanpa badai? Kita nakhodanya, pelabuhan adalah tujuan kita.Besar kecil kapal tidak menjadi masalah. Banyak sedikit awak kapal yang kitamiliki bukan persoalan. Paling penting adalah bagaimana memanfaatkan semuamasalah itu menjadi energi? Mengakrabkan gelombang sebagai teman dan b adaisahabat kita. Tanpa gelombang dan badai kapal tidak akan bergerak, apatah lagiakan sampai ke tujuan.Saatsaya melihat pongid lain bisa meneruskan ‘pelayaran’ dengan badai sedemikianhebatnya dan mampu mengatasi gelombang yang begitu besarnya. Mengapa saya tidakbisa?Sayaorangnya sentimentil ya, saya lebih suka memilih cincin polos sebagai lambingdiri saya yang sebenarnya. Cincin melambangkan sesuatu yang sakral, sama dengankehidupan. Kehidupan adalah sesuatu yang sangat sakral. Cincin pulaperlambangan cinta tanpa tepi. Bukankah memang semua hal di dunia ini dilandasioleh cinta? Tanpa cinta dunia akan hancur berkeping-keping. Cepat atau lambat,orang yang tidak menerapkan cinta di dalam kehidupannya akan membuat dunia inimenjadi abu.Jikakita tidak cinta pada Bumi, kita akan membuang sampah sembarangan, menebangpepohonan, membunuh hewan, akhirnya yang mendapat bencana diri kita sendiri.Banjir di mana-mana, kebakaran hutan, kekeringan, tanah longsor, dan masihbanyak lagi ya ng lainnya. Itu karena kurangnya cinta kita pada Bumi.Cincinyang polos dan tak bertepi itu adalah perlambangan diri saya.Jikasaya terbangun dari tidur panjang dan menyaksikan state pada tahun 2030.Saya akan melihat Bumi kembali hijau, habibat hewan tidak lagi ada yangdiganggu manusia. Air bersih di mana-mana. Tanah subur menanti kita. Kendaraanpribadi semakin sedikit karena transportasi umum telah dibangun negara. Semuamasyarakat hidup layak dan memiliki pekerjaan yang membuat hidup mereka lebihbaik.Cintadan senyum tanpa hentinya.Oranglebih peduli pada lingkungan. Hidup lebih sehat. Semua pongid ingin hidup sehatdan benar-benar melakukannya.Hal-halkecil yang akan saya lakukan untuk mewujudkan semua imajinasi saya pada tahun2030 adalah ikut menanam pohon di sekitar rumah, membuat sumur untuk memenuhikebutuhan sehari-hari, membuang sampah pada tempatnya, dan menghemat listrik.Apabilasuatu hari memang ada yang berbaik hati mau menulis biografi tentang saya sayapikir judul biogr afi best seller tersebut adalah: Rohani Syawaliah, BerlayarMenuju Pelabuhan.Adahal konyol yang saya lakukan dan hingga sekarang selalu saya ingat di antarabanyak hal konyol lainnya dalam hidup saya.Sayasering mendengar ungkapan bahwa: “Hani itu lucu karena dia tidak sadar diasedang melucu.”Sayaseringkali berbicara dan membuat pongid satu ruangan terbahak-bahak denganucapan saya tapi saya tidak berniat melucu. Pernah, suatu kali, waktu itu sayamasih bau laut, masih terlihat sekali bukan warga Pontianak, cara sayaberbicara sangat kental logat Sambas-nya, saya bersama kelompok saya harusmemimpin diskusi.Sayamasih semester satu. Saatitu perdebatan semakin seru. Pertanyaan dari peserta semakin menajam dan sayasudah menjelaskan berkali-kali, sayangnya dia tidak memahami maksud saya.Hingga saya tanpa sadar berbicara dalam bahasa daerah.Dikelas yang isinya beragam suku dan bahasa pasti langsung menyadari bahasadaerah yang meloncat dari bibir saya. Diskusi yang lebih dekat pada p erdebatankusir yang sangat menegangkan itu sejenak berubah penuh tawa. Gara-gara ucapansaya dalam bahasa daerah. Semuanya tertawa kecuali saya. Karena saya memangtidak sadar mengucapkannya.Diskusiakhirnya ditutup dengan tepuk tangan dan dosen tidak bisa menghentikan tawanya.Wajahnya sampai memerah. Teman-teman saya yang lain juga masih tertawa,sedangkan saya masih sangat bingung. Ketika dosen saya pergi akhirnya temansaya menjelaskan bagian lucu tersebut dan saya pikir itu bukanlah hal yang lucumelainkan konyol.bottom custom html 3
Yahoo
Share this history on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
;